Kampusku

Alamat Jalan DR. Ratulangi Nomor 101 Kota Makassar - Sulawesi Selatan

Profil Pembina dan Pengurus

Mengenal Lebih dekat, Pembina dan Pengurus UKM Pilar Kota Setiap Periode

Foto Kegiatan

Foto-Foto setiap kegiatan yang telah di laksanakan

Tentang UKM Pilar Kota

Mengenal Unit Kegiatan Mahasiswa Pilar Kota Akper Muhammadiyah Makassar

Artikel

Menyediakan bacaan dalam bentuk Artikel, Asuhan Keperawatan dan Laporan Pendahuluan

Terupdate

Minggu, 27 Desember 2015

ASKEP HEPATITIS



KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini tepat waktu.
Penulis menyadari sejak menyusun makalah ini banyak hambatan dan tantangan yang kami hadapi namun berkat usaha maksimal dan kemauan penulis serta tidak lepas dari bantuan dari berbagai pihak, segalanya dapat dilaksanakan dengan baik. Oleh karena itu penulis menghanturkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Ibu Harmawati, S.Kep. Ns. selaku dosen pembimbing KMB I, dan kedua orang tua saya yang senantiasa memberikan motivasi,dan teman-teman yang telah memberikan masukan demi kesuksesan dalam penyusunan makalah ini.
Semoga segala bantuan yang telah diberikan kepada kami mendapat Imbalan yang setimpal dari Allah SWT.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan,oleh karena itu,kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesuksesan makalah berikutnya.
Akhirnya penulis berharap, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua yang membutuhkannya dan penulis pada khususnya amin....








                        Makassar, 07 Desember 2011


Penulis
Kelompok 10



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………… 1
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………..  2
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………………..  3
A.    Latar Belakang ……………………………………………………………… 3
B.     Tujuan Penulisan ……………………………………………………………  3
C.     Metode Penulisan …………………………………………………………… 3
BAB II PEMBAHASAN …………………………………………………………… 4
A.    Defenisi  …………………………………………………………………….. 4
B.     Etiologi …………………………………………...…………………………. 4
C.     Tanda dan Gejala …………………………………...………………………. 5
D.    Patofisiologi …………………………………………………...……………. 5
E.     Pemeriksaan Diagnostik  ……………………………………………………. 7
F.      Komplikasi ……………………………………………………..…………… 7
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN……………………………………………... 8
BAB III PENUTUP …………………………………………….…………………. 15
A.    Kesimpulan …………………………………………………………….….. 15
B.     Saran …………………………………..……………………………….….. 15
DAFTAR PUSTAKA …………………………...……………………….……...… 16














BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
·         Hepatitis adalah suatu proses peradangan difus pada jaringan yang dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan serta bahan-bahan kimia. (Sujono Hadi, 1999).
·         Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan klinis, biokimia serta seluler yang khas (Smeltzer, 2001)

  1. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menggambarkan dan menjelaskan konsep dasar hepatitis dan Askep Hepatitis

  1. Model Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan metode deskriptif yaitu menggambarkan secara jelas konsep dasar hepatitis dan Askep Hepatitis



















BAB II
PEMBAHASAN
HEPATITIS

A.    DEFINISI
Hepatitis adalah suatu proses peradangan difus pada jaringan yang dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan serta bahan-bahan kimia. (Sujono Hadi, 1999).
Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan klinis, biokimia serta seluler yang khas (Smeltzer, 2001)

B.     ETIOLOGI
  1. Virus

Type A
Type B
Type C
Type D
Type E
Metode transmisi
Fekal-oral melalui orang lain
Parenteral seksual, perinatal
Parenteral jarang seksual, orang ke orang, perinatal
Parenteral perinatal, memerlukan koinfeksi dengan type B

Fekal-oral
Keparah-an
Tak ikterik dan asimto- matik
Parah
Menyebar luas, dapat berkem-bang sampai kronis
Peningkatan insiden kronis dan gagal hepar akut

Sama dengan D
Sumber virus
Darah, feces, saliva
Darah, saliva, semen, sekresi vagina
Terutama melalui darah
Melalui darah
Darah, feces, saliva

  1. Alkohol
Menyebabkan alkohol hepatitis dan selanjutnya menjadi alkohol sirosis.

  1. Obat-obatan
Menyebabkan toksik untuk hati, sehingga sering disebut hepatitis toksik dan hepatitis akut.

C.    TANDA DAN GEJALA
  1. Masa tunas
Virus A                           : 15-45 hari (rata-rata 25 hari)
Virus B                            : 40-180 hari (rata-rata 75 hari)
Virus non A dan non B   : 15-150 hari (rata-rata 50 hari)
  1. Fase Pre Ikterik
Keluhan umumnya tidak khas. Keluhan yang disebabkan infeksi virus berlangsung sekitar 2-7 hari. Nafsu makan menurun (pertama kali timbul), nausea, vomitus, perut kanan atas (ulu hati) dirasakan sakit. Seluruh badan pegal-pegal terutama di pinggang, bahu dan malaise, lekas capek terutama sore hari, suhu badan meningkat sekitar 39oC berlangsung selama 2-5 hari, pusing, nyeri persendian. Keluhan gatal-gatal mencolok pada hepatitis virus B.
  1. Fase Ikterik
Urine berwarna seperti teh pekat, tinja berwarna pucat, penurunan suhu badan disertai dengan bradikardi. Ikterus pada kulit dan sklera yang terus meningkat pada minggu I, kemudian menetap dan baru berkurang setelah 10-14 hari. Kadang-kadang disertai gatal-gatal pasa seluruh badan, rasa lesu dan lekas capai dirasakan selama 1-2 minggu.
  1. Fase penyembuhan
Dimulai saat menghilangnya tanda-tanda ikterus, rasa mual, rasa sakit di ulu hati, disusul bertambahnya nafsu makan, rata-rata 14-15 hari setelah timbulnya masa ikterik. Warna urine tampak normal, penderita mulai merasa segar kembali, namun lemas dan lekas capai.


D.    PATOFOSIOLOGI
           Inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan-bahan kimia. Unit fungsional dasar dari hepar disebut lobul dan unit ini unik karena memiliki suplai darah sendiri. Sering dengan berkembangnya inflamasi pada hepar, pola normal pada hepar terganggu. Gangguan terhadap suplai darah normal pada sel-sel hepar ini menyebabkan nekrosis dan kerusakan sel-sel hepar. Setelah lewat masanya, sel-sel hepar yang menjadi rusak dibuang dari tubuh oleh respon sistem imun dan digantikan oleh sel-sel hepar baru yang sehat. Oleh karenanya, sebagian besar klien yang mengalami hepatitis sembuh dengan fungsi hepar normal.
           Inflamasi pada hepar karena invasi virus akan menyebabkan peningkatan suhu badan dan peregangan kapsula hati yang memicu timbulnya perasaan tidak nyaman pada perut kuadran kanan atas. Hal ini dimanifestasikan dengan adanya rasa mual dan nyeri di ulu hati.
           Timbulnya ikterus karena kerusakan sel parenkim hati. Walaupun jumlah billirubin yang belum mengalami konjugasi masuk ke dalam hati tetap normal, tetapi karena adanya kerusakan sel hati dan duktuli empedu intrahepatik, maka terjadi kesukaran pengangkutan billirubin tersebut didalam hati. Selain itu juga terjadi kesulitan dalam hal konjugasi. Akibatnya billirubin tidak sempurna dikeluarkan melalui duktus hepatikus, karena terjadi retensi (akibat kerusakan sel ekskresi) dan regurgitasi pada duktuli, empedu belum mengalami konjugasi (bilirubin indirek), maupun bilirubin yang sudah mengalami konjugasi (bilirubin direk). Jadi ikterus yang timbul disini terutama disebabkan karena kesukaran dalam pengangkutan, konjugasi dan eksresi bilirubin.
           Tinja mengandung sedikit sterkobilin oleh karena itu tinja tampak pucat (abolis). Karena bilirubin konjugasi larut dalam air, maka bilirubin dapat dieksresi ke dalam kemih, sehingga menimbulkan bilirubin urine dan kemih berwarna gelap. Peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi dapat disertai peningkatan garam-garam empedu dalam darah yang akan menimbulkan gatal-gatal pada ikterus.


E.     PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.                            Laboratorium
a.         Pemeriksaan pigmen
-      urobilirubin direk
-      bilirubun serum total
-      bilirubin urine
-      urobilinogen urine
-      urobilinogen feses
b.         Pemeriksaan protein
-      protein totel serum
-      albumin serum
-      globulin serum
-      HbsAG
c.         Waktu protombin
-   respon waktu protombin terhadap vitamin K
d.        Pemeriksaan serum transferase dan transaminase
-      AST atau SGOT
-      ALT atau SGPT
-      LDH
-      Amonia serum
2.                            Radiologi
-      foto rontgen abdomen
-      pemindahan hati denagn preparat technetium, emas, atau rose bengal yang berlabel radioaktif
-      kolestogram dan kalangiogram
-      arteriografi pembuluh darah seliaka
3.                            Pemeriksaan tambahan
-      laparoskopi
-      biopsi hati

F.     KOMPLIKASI
Ensefalopati hepatic terjadi pada kegagalan hati berat yang disebabkan oleh akumulasi amonia serta metabolik toksik merupakan stadium lanjut ensefalopati hepatik. Kerusakan jaringan paremkin hati yang meluas akan menyebabkan sirosis hepatis, penyakit ini lebih banyak ditemukan pada alkoholik.
  BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A.    PENGKAJIAN
Data dasar tergantung pada penyebab dan beratnya kerusakan/gangguan hati
1.                            Aktivitas
ð   Kelemahan
ð   Kelelahan
ð   Malaise
ð    
2.                            Sirkulasi
ð   Bradikardi ( hiperbilirubin berat )
ð   Ikterik pada sklera kulit, membran mukosa
3.                            Eliminasi
ð   Urine gelap
ð   Diare feses warna tanah liat
4.                            Makanan dan Cairan
ð   Anoreksia
ð   Berat badan menurun
ð   Mual dan muntah
ð   Peningkatan oedema
ð   Asites
5.                            Neurosensori
ð   Peka terhadap rangsang
ð   Cenderung tidur
ð   Letargi
ð   Asteriksis
6.                            Nyeri / Kenyamanan
ð   Kram abdomen
ð   Nyeri tekan pada kuadran kanan
ð   Mialgia
ð   Atralgia
ð   Sakit kepala
ð   Gatal ( pruritus )

7.                            Keamanan
ð   Demam
ð   Urtikaria
ð   Lesi makulopopuler
ð   Eritema
ð   Splenomegali
ð   Pembesaran nodus servikal posterior
8.                            Seksualitas
ð   Pola hidup / perilaku meningkat resiko terpajan

B.     DIAGNOSA  KEPERAWATAN
Beberapa masalah keperawatan yang mungkin muncul pada penderita hepatitis :
1.         Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan, perasaan tidak nyaman di kuadran kanan atas, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan, kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena anoreksia, mual dan muntah.
2.         Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati dan bendungan vena porta.
3.      Hypertermi berhubungan dengan invasi agent dalam sirkulasi darah sekunder terhadap inflamasi hepar
4.      Keletihan berhubungan dengan proses inflamasi kronis sekunder terhadap hepatitis
5.      Resiko tinggi kerusakan integritas kulit dan jaringan berhubungan dengan pruritus sekunder terhadap akumulasi pigmen bilirubin dalam garam empedu
6.      Risiko tinggi terhadap transmisi infeksi berhubungan dengan sifat menular dari agent virus

G.    INTERVENSI
1.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan, perasaan tidak nyaman di kuadran kanan atas, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan, kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena anoreksia, mual dan muntah.
Hasil yang diharapkan : Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan bebas dari tanda-tanda mal nutrisi.
a.       Ajarkan dan bantu klien untuk istirahat sebelum makan
R/ keletihan berlanjut menurunkan keinginan untuk makan
b.      Awasi pemasukan diet/jumlah kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan pagi paling sering
R/ adanya pembesaran hepar dapat menekan saluran gastro intestinal dan menurunkan kapasitasnya.
c.       Pertahankan hygiene mulut yang baik sebelum makan dan sesudah makan
R/ akumulasi partikel makanan di mulut dapat menambah baru dan rasa tak sedap yang menurunkan nafsu makan.
d.      Anjurkan makan pada posisi duduk tegak
R/ menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan
e.       Berikan diit tinggi kalori, rendah lemak
R/ glukosa dalam karbohidrat cukup efektif untuk pemenuhan energi, sedangkan lemak sulit untuk diserap/dimetabolisme sehingga akan membebani hepar.

2.      Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati dan bendungan vena porta.
Hasil yang diharapkan :
Menunjukkan tanda-tanda nyeri fisik dan perilaku dalam nyeri (tidak meringis kesakitan, menangis intensitas dan lokasinya)
a.        Kolaborasi dengan individu untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri
R/ nyeri yang berhubungan dengan hepatitis sangat tidak nyaman, oleh karena terdapat peregangan secara kapsula hati, melalui pendekatan kepada individu yang mengalami perubahan kenyamanan nyeri diharapkan lebih efektif mengurangi nyeri.
b.        Tunjukkan pada klien penerimaan tentang respon klien terhadap nyeri
-          Akui adanya nyeri
-          Dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan klien tentang nyerinya
R/ klienlah yang harus mencoba meyakinkan pemberi pelayanan kesehatan bahwa ia mengalami nyeri
c.        Berikan informasi akurat dan
-          Jelaskan penyebab nyeri
-          Tunjukkan berapa lama nyeri akan berakhir, bila diketahui
R/ klien yang disiapkan untuk mengalami nyeri melalui penjelasan nyeri yang sesungguhnya akan dirasakan (cenderung lebih tenang dibanding klien yang penjelasan kurang/tidak terdapat penjelasan)
d.       Bahas dengan dokter penggunaan analgetik yang tak mengandung efek hepatotoksi
R/ kemungkinan nyeri sudah tak bisa dibatasi dengan teknik untuk mengurangi nyeri.

3.       Hypertermi berhubungan dengan invasi agent dalam sirkulasi darah sekunder terhadap inflamasi hepar.
Hasil yang diharapkan :
Tidak terjadi peningkatan suhu
a.       Monitor tanda vital : suhu badan
R/ sebagai indikator untuk mengetahui status hypertermi
b.      Ajarkan klien pentingnya mempertahankan cairan yang adekuat (sedikitnya 2000 l/hari) untuk mencegah dehidrasi, misalnya sari buah 2,5-3 liter/hari.
R/  dalam kondisi demam terjadi peningkatan evaporasi yang memicu timbulnya dehidrasi



c.       Berikan kompres hangat pada lipatan ketiak dan femur
R/ menghambat pusat simpatis di hipotalamus sehingga terjadi vasodilatasi kulit dengan merangsang kelenjar keringat untuk mengurangi panas tubuh melalui penguapan
d.      Anjurkan klien untuk memakai pakaian yang menyerap keringat
R/ kondisi kulit yang mengalami lembab memicu timbulnya pertumbuhan jamur. Juga akan mengurangi kenyamanan klien, mencegah timbulnya ruam kulit.

4.      Keletihan berhubungan dengan proses inflamasi kronis sekunder terhadap hepatitis
a.       Jelaskan sebab-sebab keletihan individu
R/ dengan penjelasan sebab-sebab keletihan maka keadaan klien cenderung lebih tenang
b.      Sarankan klien untuk tirah baring
R/ tirah baring akan meminimalkan energi yang dikeluarkan sehingga metabolisme dapat digunakan untuk penyembuhan penyakit.
c.       Bantu individu untuk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan, kemampuan-kemampuan dan minat-minat
R/ memungkinkan klien dapat memprioritaskan kegiatan-kegiatan yang sangat penting dan meminimalkan pengeluaran energi untuk kegiatan yang kurang penting
d.      Analisa bersama-sama tingkat keletihan selama 24 jam meliputi waktu puncak energi, waktu kelelahan, aktivitas yang berhubungan dengan keletihan
R/ keletihan dapat segera diminimalkan dengan mengurangi kegiatan yang dapat menimbulkan keletihan
e.       Bantu untuk belajar tentang keterampilan koping yang efektif (bersikap asertif, teknik relaksasi)
R/ untuk mengurangi keletihan baik fisik maupun psikologis


5.      Resiko tinggi kerusakan integritas kulit dan jaringan berhubungan dengan pruritus sekunder terhadap akumulasi pigmen bilirubin dalam garam empedu
Hasil yang diharapkan :
Jaringan kulit utuh, penurunan pruritus.
a.       Pertahankan kebersihan tanpa menyebabkan kulit kering
-          Sering mandi dengan menggunakan air dingin dan sabun ringan (kadtril, lanolin)
-          Keringkan kulit, jaringan digosok
R/ kekeringan meningkatkan sensitifitas kulit dengan merangsang ujung syaraf
b.      Cegah penghangatan yang berlebihan dengan pertahankan suhu ruangan dingin dan kelembaban rendah, hindari pakaian terlalu tebal
R/ penghangatan yang berlebih menambah pruritus dengan meningkatkan sensitivitas melalui vasodilatasi
c.       Anjurkan tidak menggaruk, instruksikan klien untuk memberikan tekanan kuat pada area pruritus untuk tujuan menggaruk
R/ penggantian merangsang pelepasan hidtamin, menghasilkan lebih banyak pruritus
d.      Pertahankan kelembaban ruangan pada 30%-40% dan dingin
R/ pendinginan akan menurunkan vasodilatasi dan kelembaban kekeringan

6.      Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan pengumpulan cairan intraabdomen, asites penurunan ekspansi paru dan akumulasi sekret.
Hasil yang diharapkan :
Pola nafas adekuat
Intervensi :
a.         Awasi frekwensi , kedalaman dan upaya pernafasan
R/ pernafasan dangkal/cepat kemungkinan terdapat hipoksia atau akumulasi cairan dalam abdomen

b.         Auskultasi bunyi nafas tambahan
R/ kemungkinan menunjukkan adanya akumulasi cairan
c.         Berikan posisi semi fowler
R/ memudahkan pernafasan denagn menurunkan tekanan pada diafragma dan meminimalkan ukuran sekret
d.        Berikan latihan nafas dalam dan batuk efektif
R/ membantu ekspansi paru dalam memobilisasi lemak
e.         Berikan oksigen sesuai kebutuhan
R/ mungkin perlu untuk mencegah hipoksia                   

7.      Risiko tinggi terhadap transmisi infeksi berhubungan dengan sifat menular dari agent virus
Hasil yang diharapkan :
            Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.
a.        Gunakan kewaspadaan umum terhadap substansi tubuh yang tepat untuk menangani semua cairan tubuh
-          Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan semua klien atau spesimen
-          Gunakan sarung tangan untuk kontak dengan darah dan cairan tubuh
-          Tempatkan spuit yang telah digunakan dengan segera pada wadah yang tepat, jangan menutup kembali atau memanipulasi jarum dengan cara apapun
R/ pencegahan tersebut dapat memutuskan metode transmisi virus hepatitis
b.        Gunakan teknik pembuangan sampah infeksius, linen dan cairan tubuh dengan tepat untuk membersihkan peralatan-peralatan dan permukaan yang terkontaminasi
R/ teknik ini membantu melindungi orang lain dari kontak dengan materi infeksius dan mencegah transmisi penyakit
c.        Jelaskan pentingnya mencuci tangan dengan sering pada klien, keluarga dan pengunjung lain dan petugas pelayanan kesehatan.
R/ mencuci tangan menghilangkan organisme yang merusak rantai transmisi infeksi
d.       Rujuk ke petugas pengontrol infeksi untuk evaluasi departemen kesehatan yang tepat
R/ rujukan tersebut perlu untuk mengidentifikasikan sumber pemajanan dan kemungkinan orang lain terinfeksi

BAB IV
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
·         Hepatitis adalah suatu proses peradangan difus pada jaringan yang dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan serta bahan-bahan kimia. (Sujono Hadi, 1999).
·         Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan klinis, biokimia serta seluler yang khas (Smeltzer, 2001)

B.    SARAN
            Setelah kita membaca makalah diatas kita dapat menggambarkan dan menjelaskan konsep dasar hepatitis dan Askep Hepatitis.























DAFTAR PUSTAKA

Carpenito Lynda Jual, 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, EGC, Jakarta.
Gallo, Hudak, 1995, Keperawatan Kritis, EGC, Jakarta.
Hadim Sujono, 1999, Gastroenterologi, Alumni Bandung.
Moectyi, Sjahmien, 1997, Pengaturan Makanan dan Diit untuk Pertumbuhan Penyakit, Gramedia Pustaka Utama Jakarta.
Price, Sylvia Anderson, Wilson, Lorraine Mc Carty, 1995, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, EGC, Jakarta.
Smeltzer, suzanna C, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner dan Suddart. Alih bahasa Agung Waluyo, Edisi 8, jakarta, EGC, 2001.
Susan, Martyn Tucker et al, Standar Perawatan Pasien, jakarta, EGC, 1998.
Reeves, Charlene, et al,Keperawatan Medikal Bedah, Alih bahasa Joko Setiyono, Edisi I, jakarta, Salemba Medika.
Sjaifoellah Noer,H.M, 1996, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid I, edisi ketiga, Balai Penerbit FKUI, jakarta.

DOKUMENTASI KHUSUS



DOKUMENTASI KHUSUS
(Dokumentasi Populasi Khusus)
1.      DOKUMENTASI POPULASI ANAK

            Pendekatan keperawatan pada anak berfokus pada masalah pertumbuhan dan perkembangan anak. Pendokumentasian semua askep bioppsikososial dan spiritual pada anak, berpedoman pada penkajian, rumusan diagnosa (sesuai dengan tingkat perkembangan fisik ), psikologis dan emosionl anak. Selain itu, diperlukan pengkajian keluarga, orang tua, orang yang berpengaruh lainnya, dan pengkajian terhadap kegiatan anak bermain. Dokumentasi ini menggunakan alat pengkajian dan pencatatan yang menrefleksikan tingkat perkembangan, vadilasi data anak, dan keluhan umum. Perawat harus melakukan diagnosa keperawatan yang tepat dalam mencatat semua intervensi dengan menggunakan lembar alur.

a.      Faktor - faktor dalam merawat klien pediatrik
Pasien pediatric merupakan tantangan khusus bagi perawat. Banyak klien pediatric yang tidak dapat mengkomunikasikan kebutuhannya atau mengungkapkan rasa nyeri. Perawat harus sangat sensitif terhadap bentuk – bentuk komunikasi nonverbal, seperti tangisan, posisi tubuh, dan kontak mata, ketidakmampuan bayi untuk berkomunikasi berarti perawat harus mengantisipasi kebutuhan anak. Di unik perawatan pediatric., kesalahan pemberian obat dapat mengancam kehidupan anak. Gangguan keseimbangan asam basa atau elektrolit dan dehidrasi dapat mengubah efek obat. kecelakaan merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada anak. Anak beresiko lebih besar terhadap cedera akibat luka baker atau jatuh.

b.      Pedoman untuk berkomunikasi dengan anak
Ø  Usia 0 – 1 tahun
a)      Gendong, timang dan berbicara dengan bayi, terutama ketika ia sedang marah atau ketakutan.
b)      Gunakan suara lembut dan pelan
c)      Dekati bayi dengan perlahan dan hindari gerakan yang menakutkan.
Ø  Usia 2 – 5 tahun
a)      Berikan instruksi yang singkat dan jelas
b)      Izinkan anak untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan ( jika perlu )
c)      Bersikap jujur dan beritahu anak jika prosedur itu menyakitkan
Ø  Usia 6 – 12 tahun
a)      Libatkan anak dalam diskusi bersana orang tua
b)      Beri kesempatan pada anak untuk berpartisipasi melalui bermain peran atau mendongeng.
c)      Izinkan anak untuk memilih hadiah yang akan diterimanya setelah pelaksanaan prosedur.
Ø  Remaja
a)      Beri kesempatan untuk mewawancarai anak tanpa kehadiran orang tua
b)      Pertahankan sikap yang tidak menghakimi
c)      Gunakan pertanyaan terbuka dan teknik pengulangan.

c.       Berkomunikasi dengan anak dan keluarga
            Karena keluarga bertindak sebagai system pendukung anak, mereka harus diperlakukan sebagai satu kesatuan. Untuk itu, menciptakan kominikasi dengan semua anggota keluarga merupakan hal yang esensial. Komunikasi efektif adalah kominikasi yang jelas, konsisten, dan sering. Strategi yang dapat digunakan untuk mempermudah pengambilan riwayat keperawatan dan menbuat hubunga terapeutik dengan keluarga : Sebelum interaksi, tentukan siapa yang akan diwawancarai.
            Pilih tempat yang tenang dan pribadi untuk melakukan wawancara Melalui wawncara dengan memperkenalkan diri perawat pada anak dan keluarga. Jelaskan alasan dan lamanya wawancara, serta dapatkan izin verba untuk melanjutkan. Gunakan teknik pertanyaan terbuka untuk mengarahkan dari sesi tersebut. Libatkan anak dengan pertanyaan yang sesuai usia untuk menunjukka ketertarikan pada anak. Gunakan teknik komunikasi terpeutik ( mis : teknik diam ) dan mendengar aktif .Tunjukkan empati, ketulusan dan perhatian untuk membentuk rasa percaya .Observasi petunjuk nonverbal, seperti ekspresi wajah dan postur tubuh.

d.      Resiko hukum perawatan pediatric
            Perawat yang merawat pasien pediatrik diharuskan memiliki standar keperawatan dan keterampilan yang lebih tinggi karena pasien mudah memerlukan lebih banyak perhatian ( calloway, 1986 ). Karena pasien – pasien ini tidak bisa menjaga diri sendiri, maka mereka mengandalkan ( perawat ) untuk mengantipasi, mendeteksi, mendokumentasikan, dan bahkan mengomunikasikan tanda – tanda samar penyakit yang mengancam atau yang menyebabkan komplikasi. Bagi perawat, istilah perlindungan diri, berarti “semakin kecil usia pasien, semakin besar resikonya” ( Greve, 1990 )

2.      DOKUMENTASI POPULASI LANSIA
            Ligkup dokumentasi ini meliputi perawatan yang diberikan di rumah sakit, di rumah, dan di masyarakat. Dokumentasi populasi melakukan praktik keperawatan untuk mengatasi pasien yang butuh penanganan pasien. Dokimentasi orang lanjut usia meliputi : perawatan lansia yang sehat, lansia yang perlu perawatan akut dan lansia yang perlu perawatan lama. Dalam pelaksanaannya dokumentasi ini menggunakan pendekatan proses keperawatan, khususnya dalam melakukan pencatatan tentang perawatan lanjut usia. Beberapa hal yang perlu dicatat antara lain : perubahan fisik, psikologis ( dalam kemempuan fungsional ), masalah pasien, ringkasan medik, aktifitas keperawatn, komunikasi dengan anggota keluarga atau orang yang dianggap penting.

3.      DOKUMENTASI POPULASI PERINATAL
            Dokumentasi ini meliputi dokumentasi pada perawatan ibu, janin, bayi, bayi baru lahir dan keluarga. Dokumentasi perinatal meliputi dokumentasi anatenal, dokumentasi intranatal dan dokumentasi pascanatal. Fokus dokumentasi diarahkan pada pendidikan kesehatan, pencegahan cedera dan pemulihan kesehatan.

a)      Dokumentasi antanatal
Dokumentasi antanatal merupakan dokumentasi proses keperawatan pada masa kehamilan. Unsur dokumentasi antenatal yang paling penting adalah riwayat kesehatan komprehensif, antara lain: identities pasien, informasi penyakit sebelumnya, kehamilan sebelumnya, riwayat keluarga yang relevan, pemeriksaan fisik secara lengkap, respon psikososial terhadap kehamilan, riwayat penyakit ibu yang mempengaruhi janin dan riwayat pengobatan ibu terhadap janin.



b)      Dokumentasi intranatal
Dokumentasi intranatal merupakan dokumentasi proses keperawatan selama terjadinya proses kelajiran. Fokus pengkajian dokumentasi ini meliputi saat masuk rumah sakit, asuhan keperawatan ibu, janin dan bayi baru lahir, pengkajian lanjutan dan pendidikan kesehatan. Semua ini merupakan unsur yang harus ada dalam pencatatan dokumentasi intranatal.
Untuk ke efektifas penulisan dokumentasi intranatal, pencatatan mencakup data spesifik yaitu keadaan fisik dan emosi, catatan penting selamam diruang bersaling, pengkajian lanjutan. Catatan ini harus meliputi standar keperawatan dan prosedur yang telah ditetapkan.

4.      DOKUMENTASI POPULASI PSIKIATRI
            Dokumentasi populasi psikiatri mencakup kedaruratan akut, perawatan jangka panjang, rawat jalan, dan perawatan di rumah. Dalam dokumentasi ini focus pengkajian adalah riwayat biopsikososial, spiritual, dan cultural untuk mencapai dokumentasi populasi psikiatri yang efektif. Data – data yang telah di kumpulkan harus mencakup : tingkat perkembangan, proses berfikir, tingkat ansietas, mekanisme pertahana diri, tingkat harga diri, orentasi realitas, pola komunikasi keluarga, dan gaya hidup. Masalah dokumentasi yang umum sering terjadi dalam perawatan psikiatrik : Gagal untuk mencegah bahaya pada diri sendiri atau orang lain Mis :Perilaku bunuh diri atau kekerasan Pulang paksa Penolakan terhadap pengobatan Melarikandiri





DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A.Aziz Alimul,S.Kep.2001. Pengantar Dokumentasi Proses Keperawatan. Jakarta,    EGC.
Iyer, Patricia W,Camp H. Nancy.2004. Dokumentasi Keperawatan : suatu pendekatan proses keperawatan , Edisi 3. Jakarta, EGC.



Makalah Sistem Perkemihan

Anatomi Fisiologi Sistem Persarafan

Anatomi Fisiologi Sistem Perkemihan

Anatomi Fisiologi Ginjal

Anatomi Sistem Organ

Anatomi Rongga Panggul

Anataomi Fisiologi sistem Pencernaan

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com

Sponsor